Thursday, 21 September 2017

KISAH RANU DAN CEMARA VERSIKU

Hari itu adalah hari dimana pertemuan kita yang kesekian kalinya dengan drama-drama singkat dua makhluk dengan ikatan darah yang telah berbaur dari sana sini. Aku menyadari masih adanya ikatan yang cukup dekat antara kau denganku. Selalu aku tanyakan kepadamu, dan kau menjawabnya dengan "tidak apa-apa". Aku terlena dengan buai-buaian angin di Ranumu. 

kau panggil aku, Cemara....

Kau berkisah tentang Ranu dan Cemara. Kau gambarkan seakan Ranu tak akan sanggup bertahan subur tanpa ketabahan Cemara yang menyejukkannya. Buaian-buaian senandung sang Ranu mengayun-ayunkan Cemara. Membuat Cemara berlenggat-lenggot menikmati buaian tak berisi, ((( kosong ))). 

Hingga suatu hari Cemara sadar, ia hanya sebagai penopang kehidupan Ranu. Ranu malu.... Mereka saling memunggungi satu sama lain, sapa itu hilang.

Malam pun tiba, Cemara menunggu Ranu menyapanya (((diam, sunyi, tanpa sepatah kata pun))). Cemara sadar, ia memutuskan untuk tidak lagi mengharapkan Ranu. Ia mengerti sekarang bagaimana kondisinya. 

Cemara berbalik arah dan ingin melangkah ke tempat yang lebih menentramkan. Satu langkah dalam angan, Ranu menancapkan kapak tak berampun. Ranu menebang Cemara. Tangis Cemara perih, air matanya tawar.

Satu permintaan terakhir Cemara pada Ranu 'Cabut akarku, lemparkan ke tempat yang jauh dari bibir ranumu.'
Ranu mencabutnya dan melemparkannya dengan segala daya. Cemara yang samar melihat akarnya terlembar berbisik dalam hati 'Semoga kau menemukan tempat tumbuh yang lebih subur wahai akarku.'